Peran Agama dalam Pendidikan Karakter

Peran Agama dalam pendidikan Karakter – Islam adalah agama kaffah yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Agama seharusnya dijadikan kunci dari semua persoalan hidup manusia, karena dengan berpegang teguh kepada konsep agama, akan menjadi solusi dari semua permasalahannya.

Peran agama sangat dominan sekali dalam diri manusia, karena manusia sebetulnya sudah diikat dengan sebuah perjanjian ketika Allah mulai menciptakan manusia dalam bentuk janin, dimana manusia telah mengakui dan bersaksi terhadap Allah. Tulisan ini diharapkan memberikan tuntutan kepada sesiapa yang membaca agar dapat memahami bagaimana dirinya dapat menjalani kehidupan di dunia dengan mengikuti konsep dan petunjuk agama sehingga menjadi pribadi yang berkarakter (berakhlak) baik terhadap Allah, terhadap sesama manusia, dan terhadap lingkungannya.

Dengan memiliki karakter sebagaimana tuntunan agama, akan menjadikan manusia dapat dengan leluasa menjalani kehidupan di dunia, dan di akhirat akan dimuliakan oleh Allah.

Definisi Agama

Agama merupakan sesuatu yang sangat universal dan sakral. Banyak kajian yang membahas tentang agama sebagai konsep universal. Salah satunya adalah kajian tentang rekonstruksi pengertian agama yang dibangun oleh keilmuan dari berbagai lintas disiplin ilmu. Setiap disiplin ilmu tertentu mendefinisikan makna agama dengan perspektif ilmu tersebut.
Secara etimologis, agama telah diterjemahkan ke dalam berbagai Bahasa, termasuk Indonesia. Agama merupakan sebuah kata yang diambil dari Bahasa sanksakerta, yang artinya “keteraturan”. Dimensi keteraturan itu tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga berkaitan dengan kelompok. dimensi keteraturan itu diperuntukkan bagi kehidupan manusia dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Agama mengajarkan bahwa manusia harus mengejar keteraturan hidup setelah berada di akhirat.

Dalam perspektif etimologis agama berasal dari Bahasa Inggris “religion” yang diadopsi dari kata Belanda religie. Bahasa inipun berasal dari Bahasa latin “religio” yang berarti mengikat. Makna mengikat dalam konteks ini adalah adanya aturan-aturan yang harus dijalankan, ditaati, dan dipatuhi oleh pengikutnya. Menurut Bahasa Arab, agama berasal dari kata “ad-din” yang berarti pengabdian, kebiasaan, atau kebijakan.

Para ilmuan sosial biasanya menggunakan dua macam definisi agama yaitu definisi substantif dan definisi fungsional. Definisi substantif berusaha menetapkan batas-batas atau kategori-kategori sari sebuah fenomena yang menyebabkannya disebut agama dan membedakannya dari fenomena lain yang bukan agama. Salah satu definisinya sebagaimana yang disampaikan oleh Melfrod Spiro yang mengartikan bahwa agama sebagai satu institusi yang terdiri dari interaksi yang terpolakan secara kultural dengan pengandaian akan keberadaan yang suprahuman.

Definisi fungsional menekankan apa yang dibuat oleh agama untuk seorang individu, kelompok, atau masyarakat. Karena itu, agama didefinisikan di dalam istilahistilah fungsi yang harus dijalankan. Salah satu contoh difinisi ini sebagaimana yang diberikan oleh Clifford Greertz. Dia mengartikan agama sebagai simbol yang berfungsi untuk menentramkan hati dan memberikan motivasi yang kuat dan tahan lama di dalam kehidupan manusia dengan menetapkan konsep-konsep atau merumuskan kepercayaankepercayaan tentang tatanan umum eksistensi (manusia dan masyarakat) dan membungkus konsep-konsep ciptaan kepercayaan itu seolah-olah sebagai sesuatu yang real atau merupakan fakta sehingga susasana batin dan motivasi yang terciptapun menjadi real.

Agama sebagai Kebutuhan Manusia.

Manusia sebagai makhluk sosial perlu memenuhi dua kebutuhan dalam hidupnya yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani (spritual). Islam sebagai sebuah agama, telah memberikan petunjuk dan landasan dasar serta arah hidup agar manusia mampu mencapai kesejahteraan dan kedamaian hidupnya. Agama memiliki kedudukan yang amat penting bagi kehidupan manusia karena agama mengatur segala aspek kehidupan manusia. Agama tetap dibutuhkan manusia sepanjang hidup manusia sebagai kebutuhan yang sifatnya primer. Fadholi dkk menjelaskan setidaknya ada 5 alasan utama kenapa manusia membutuhkan agama yaitu (1) agama sebagai kebutuhan fitrah manusia, (2) kemerdekaan manusia, (3) agama sebagai obat kegelisahan hati, (4) untuk mendapatkan kebahagiaan (ridla Allah), dan (5) mempertahankan martabat manusia.

 

1. Agama sebagai Kebutuhan Fitrah Manusia

Secara naturalisatik manusia membutuhkan Allah sebagai Tuhan atau beragama. Fitrah agama ini menjadi kebutuhan dasar manusia, karena fitrah ini yang membedakan manusia dengan hewan. Agamalah yang telah mencetak manusia menjadi beretika dan berada. Agamalah yang yang telah mendidik manusia menjadi berilmu sehingga meletakkan manusia dalam derajat yang tinggi. Tanpa agama manusia dapat bertindak seperti hewan.

2. Kemerdekaan Manusia

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kemerdekaan dalam berinteraksi dalam lingkungannya. Kemerdekaan disini dimaksudkan bahwa manusia dalam membina hubungan sesama manusia harus diwujudkan dengan memperhatikan kepentingan orang lain, dengan cara megikuti aturan-aturan demi kepentingan bersama. Agama memberikan kebebasan kepada manusia untuk berinteraksi dengan sesama manusia selama tidak melanggar koridor agama. Agama berfungsi sebagai pengendali yang mengarahkan manusia ke arah kebaikan. Adanya peraturan yang tertuang dalam bingkai agama bukan mempersempit ruang gerak manusia, tetapi untuk memudahkan langkah manusia dalam langkahnya.

3. Agama sebagai Obat Kegelisahan Hati

Manusia senantiasa bergejolak dengan perkembangan zaman yang menuntut banyak hal dalam hidupnya. Gejolak hidup itu dirangsang oleh kekuatan hawa nafsu dengan pelbagai keinginan yang ingin dicapai secara logika. Kekuatan hawa nafsu dapat mengantarkan manusia pada dataran kebimbangan yang memungkinkan manusia mengambil jalan pintas ketika dihadapkan dengan persoalan hidup. Nah, agama dapat menjadi piranti kekuatan yang dapat membendung manusia dalam situasi kegelisahan seperti ini.

4. Untuk mendapatkan kebahagiaan (ridla Allah)

Orientasi hidup manusia pasti menuju kepada kebahagiaan. Kebagaiaan itu tidak memiliki standar tertentu karena substansi kebahagiaan dapat melahirkan makna yang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Ada yang beranggapan bahwa materi menjadi salah satu standar kebahagiaan hidup. Ada pula yang dapat menikmati hidup dengan penuh tenang, damai dan sejahtera walau hidup dalam keterbatasan karena mereka yang hidup dalam kondisi demikian dapat menikmati keterbatasan tersebut sebagai sebuah nikmat. Sementara ada pihak lain yang tidak mendapat kebahagiaan walaupun bergelimang materi karena materi tidak dapat memberikan jaminan kesenagan hidup. Agama memberikan ruang tersendiri bagi semua pihak untuk meraih kebahagiaan baik yang miskin, yang kaya, yang berpangkat, atau lainnya karena agma memberikan etika untuk menjalani hidup ini dengan penuh tanggung jawab. Mematuhi koridor agama pastinya akan memberikan kebahagian dalam diri manusia.

5. Mempertahankan martabat manusia

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Salah satu keistimewaan manusia adalah dengan dianugerahi akal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Tanpa agama, manusia akan terjerembab ke dalam jurang kenistaan, karena manusia akan mudah terpengaruh oleh kekuatan hawa nafsu yang senantiasa mengajaknya ke lorong kehinaan. Agama yang membekali manusia dengan kekuatan iman dan amal shaleh dapat mengangkat martabat manusia menjadi pribadi yang dihormati dan dimulyakan baik oleh sesama maupun oleh Allah.

Hakikat Karakter

Agama yang membekali manusia Menurut ajaran Islam, hakikat pendidikan adalah mengembalikan nilai-nilai ilahiyah pada manusia (fitrah) dengan Dengan kata lain pendidikan dengan sendirinya berorientasi kepada pembentukan karakter manusia karena pada hakikatnya makna akhlak dekat dengan karakter. Marzuki dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Karakter Islam” menyatakan bahwa karakter identik dengan akhlak sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi segala aktivitas manusia- baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan-yang terwujud dalam sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Terbentuknya karakter tentu tidak datang dengan sendirinya, sudah barang tentu melalui proses-proses tertentu. Nah, pendidikan punya peran yang dominan dalam pembentukan karakter manusia baik pendidikan formal maupun non formal. Karena pentingnya pendidikan, Islam memerintah pemeluknya untuk menuntut ilmu. Kewajiban menuntut ilmu tidak dibatasi oleh ruang gerak dan waktu, karena kewajiban menuntut ilmu dalam Islam berlangsung sejak manusia lahir hingga mati, sebagaimana hadis yang berbunyi :   artinya tuntutlah ilmu sejak lahir hingga ke liang lahad (meninggal). Tuntutan menuntut ilmu yang bersumber dari hadis ini memberikan makna kewajiban belajar sepanjang hayat (long live education) melalui pendidikan di keluarga, pendidikan di sekolah, dan pendidikan di masyarakat. Implikasi pendidikan baik yang terjadi di keluarga, sekolah maupun masyarakat pada hakikatnya berorientasi kepada terbentuknya pribadi yang berkarakter. Hal ini dapat dilihat dari konteks pendidikan yang salah satu muatannya terbentuknya karakter peserta didik. Dengan demikian, makna pendidikan karakter itu sendiri secara implisit telah termaktub dalam definisi pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari makna pendidikan yang sedemikian luasnya karena pendidikan tidak hanya sebatas pada penanaman materi pelajaran dalam proses belajar mengajar, tetapi juga penanaman karakter-karakter pada diri peserta didik yang menjadi tujuan pendidikan.

Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan tentang makna pendidikan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Tujuan pendidikan dalam undang-undang tersebut di atas secara lugas mengemukakan tujuan pendidikan untuk membentuk peserta didik agar memiliki karakter-karakter baik sebagaimana tersebut di atas. Maka pelaksanaan pendidikan diharapkan mampu mengakomodir tujuan pendidikan di atas sehingga dapat melahirkan out put yang berkarakter dengan pelbagai kemampuan yang dimiliki.

Memaknai karakter dari perspektif agama, makna karakter dekat dengan makna moral. Karakter berkaitan dengan kekuatan moral yang berkonotasi positif. Jad orang yang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) yang positif. Hal ini selaras dengan pendapat Lickona yang menekankan tiga komponen karakter yang baik, yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral), dan moral action (perbuatan moral).

Dengan demikian pendidikan adalah membangun karakter, yang secara implisit mengandung arti membangun sifat atau karakter yang didasari atau berkaitan dengan moral positif atau yang baik, dan bukan yang negatif dan buruk. Membangun karakter manusia dapat dilakukan melalui proses pendidikan. Menurut Masnur Muslich pada dasarnya pendidikan merupakan internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradab. Jadi, pendidikan merupakan sarana strategis dalam pembentukan karakter.

Untuk memahami pendidikan karakter itu sendiri, kita perlu memahami struktur antropologis yang ada dalam manusia11. Struktur antropologis manusia terdiri dari jasad, ruh, dan akal. makna ini selaras dengan pendapat Lickona sebagaimana yang disebutkan di atas bahwa pendidikan karakter harus melibatkan tiga komponen utama karakter yaitu pengetahuan, perasaan, dan perbuatan, yang diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan. Istilah lainnya adalah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk itu pendidikan karakter harus mencakup semua struktur antropologis manusia tersebut.

Lahirnya pendidikan karakter utamanya di Indonesia memiliki landasan historis yang hampir sama dengan diutusnya Nabi Muhammad, dimana Nabi Muhammad diutus ketika Bangsa Arab berada dalam masa jahiliyah yang ditandai dengan rusaknya moral masyarakat pada masa itu. Sementara lahirnya pendidikan karakter merupakan salah satu bentuk upaya prefentif dari degradasi moral yang melanda bangsa ini yang terjadi hampir di semua lini. Pendidikan karakter diharapkan mampu mengembalikan nilai-nilai kehidupan manusia menuju kehidupan yang bermartabat dengan berlandaskan kepada nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang tangguh. Untuk mewujudkan terbentuknya karakter yang berlandaskan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan, agama punya peran yang amat kuat. Agama memang mengutamakan terbentuknya karakter atau akhlak umat islam sebagaimana sabda Nabi
Muhammad: األخالق مكارم ألمتم بعثت إمنا, artinya sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak. Berbicara masalah akhlak, maka cakupannya sangatlah luas karena akhlak berkaitan dengan manusia, lingkungan, dan Allah. dengan kekuatan iman dan amal shaleh dapat mengangkat martabat manusia menjadi pribadi yang dihormati dan dimuliakan baik oleh sesama maupun oleh Allah.

Peran Agama sebagai Karakter Manusia

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama mempunyai peran yang sangat dominan dalam kehidupan manusia, karena agama mengatur segala aspek kehidupan manusia. Peran agama dalam pembentukan karakter manusia antara lain yaitu:

1. Agama sebagai pedoman hidup manusia

Agama adalah pandangan hidup manusia dan menjadi tolak ukur dalam segala aspek
kehiduan manusia. Kehadiran manusia ke dunia membawa ikatan kontrak dengan
Tuhannya, bahkan sejak manusia berbentuk janin telah berjanji untuk patuh dan
menjalankan perintahNya. Kontrak antara manusia dengan Tuhannya termaktub
dalam surat Al-A’raf ayat 172. Yang artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, Ayat tersebut di atas memberikan pemahaman bahwa manusia telah mengakui  Tuhan sejak dalam kandungan, yang berarti bahwa manusia akan mematuhinya ketika sudah lahir ke dunia. Sudah barang tentu Allah tidak sekedar hanya membuat perjanjian dengan manusia, tetapi melengkapinya dengan konsep bagaimana manusia menjalani kehidupan di dunia.

Oleh karena itu, melalui Al-Qur’an dan Hadits yang menjadi pedoman manusia, Allah mengatur kehidupan manusia sejak lahir hingga wafatnya mulai hal-hal yang sepele hingga yang besar. Agama mengatur segala aspek kehidupan manusia dalam bentuk perintahnya baik yang bersifat sunnah, mubah, maupun wajib. Dengan mematuhi kehendak Allah melalui konsep agama, sudah bisa dipastikan manusia akan menjadi pribadi yang berkarakter, karena agama mengatur segala aspek kehidupan manusia. Agama mengatur kehidupan manusia mulai dari kehidupan di keluarga, di sekolah, di masyarakat, dan lainnya. Dengan mematuhi konsep agama, sudah bisa dipastikan manusia akan menjadi berkarakter agamis yang mengantar manusia akan dapat menjalani kehidupan dengan baik karena dalam konsep tersebut sudah diatur secara lengkap. Sebagai contoh misalnya agama mendukung nilai-nilai luhur yang menyeru kepada prinsip kebaikan, seperti keadilan, kejujuran, toleransi, dan tolong menolong.

2. Agama Membentuk Manusia Berakhlak

Allah telah berkehendak bahwa akhlak dalam Islam memiliki karasteristik yang berbeda dan unik (istimewa) dari agama Yahudi, Nasrani ataupun keduanya, yaitu dengan karakteristik yang menjadikannya sesuai untuk setiap individu, kelas sosial, ras lingkungan, masa dan segala kondisi. Islam sebagai sebuah agma membawa misi utama penyempurnaan Akhlak sebagaimana sabda Nabi Muhammad “sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”.

Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa manusia. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan keimanan seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam perilaku nyata sehari-hari. Pada dasarnya akhlak yang baik adalah akumulasi dari aqidah dan syariat yang bersatu secara utuh dalam diri seseorang. Aqidah telah mendorong pelaksanaan syariat yang selanjutnya akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan wujud yang tampak apabila syariat Islam telah dilaksanakan berdasarkan
aqidah.

Menurut objek atau sasarannya, akhlak terbagi kepada akhlak terhadap Allah, akhlak kepada manusia, dan akhlak kepada lingkungan.

a. Akhlak kepada Allah

Akhlak kepada Allah dilakukan melalui media komunikasi yang telah ditentukan dalam agama untuk patuh terhadap perintah dan menjauhi larangan_Nya. Salah satu perintahNya yaitu ibadah Shalat, Puasa di bulan Ramadlan, membaya zakat, dan melaksanakan ibadah haji. Disamping ibadah yang hukumnya wajib, perlu diimbangi dengan ibadah-ibadah lain yang hukumnya Sunnah seperti sholat Sunnah rawatib, sholat Sunnah dhuha, sholat Sunnah tahajjud, dan sebagainya. Ibadah ini mempekuat komuniikasi manusia
dengan Allah.

Komunikasi manusia dengan Allah juga dapat dilakukan dengan memperbanya berzikir kepada Allah, yaitu dengan mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati.

Berdizikir dapat melahirkan ketengan dan ketentraman sebagaimana diungkapkan dalam firman Allah surat Ar-Ra’d 13:28 : Ingatlah, dengan zikir kepada Allah akan menenteramkan hati. Disamping memperbanyak zikir, komunikasi kepada Allah juga harus dilakukan manusia melalui banyak berdoa kepada Allah dan sikap-sikap baik
kepada Allah.

Doa merupakan inti ibadah, karena doa terdapat dalam setiap ibadah manusia. Doa merupakan pengakuan atas keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan atas kemahakuasaan Allah.

Adapun sikap-sikap yang harus ditunjukkan manusia kepada Allah antara lain tawakkal dan tawaduk kepada Allah. Tawakal yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah menunggu hasilnya setelah melalui proses usaha keras.
Tawaduk yaitu rendah hati di hadapan Allah dengan mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah. Oleh karena itu tidak layak manusia hidup dengan sifat angkuh dan sombong.

b. Akhlak kepada Manusia

Islam mengatur hubungan sesama manusia dalam berbagai sektor kehidupannya agar dapat hidup dan menjalani kehidupan secara baik. Manusia sebagai makhluk sosial akan senantiasa berhubungan dengan komunitasnya baik
di keluarga, di organisasi, maupun di masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

Sebagai manusia, ia dituntut untuk menjadi pribadi yang baik dengan karakter yang mulia agar mampu berkomunikasi dengan baik dengan sesama manusia. Komunikasi itu akan bisa berlangsung dengan baik pula, kalau
seseorang memiliki akhlak yang baik. Implementasi akhlak seharusnya dibangun dari lingkungan terdekat, yaitu lingkungan keluarga yang dimulai dengan berbakti kepada kedua orang tua, dilanjutkan terhadap lingkungan masyarakat tanpa harus memperhatikan perbedaan agama, etnis, atau bahasa.

Agama mengatur entitas komunikasi manusia sesama manusia secara kaffah baik secara individu maupun berkelompok dengan berpegang teguh pada prinsip keimanan dan ketakwaan.
Akhlak sesama manusia terdiri dari :

1. Akhlak terhadap diri sendiri, yaitu bagaimana seseorang bersikap dan berbuat yang terbaik untuk dirinya sendiri, yang selanjutnya dapat menentukan sikap dan perbuatannya yang terbaik untuk orang lain, sebagaimana yang dipesankan Nabi, bahwa mulailah sesuatu itu dari diri sendiri (ibda’ binafsih). Begitu juga ayat dalam Al-Qur’an, yang telah memerintahkan untuk memperhatikan diri terlebih dahulu baru orang lain, “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, (Q.S. At Tahrim: 6). Bentuk aktualisasi akhlak manusia terhadap diri sendiri berdasarkan sumber ajaran Islam adalah menjaga harga diri, menjaga makanan dan minuman dari hal-hal yang diharamkan dan merusak, menjaga kehormatan seksual, mengembangkan sikap berani
dalam kebenaran serta bijaksana.

2. Akhlak dalam keluarga. Akhlak dalam keluarga terbagi kepada beberapa bentuk yaitu akhlak kepada orang tua, akhlak kepada anak sebagai keturunan dari orang tua. Islam mengatur hubungan antara anak terhadap orang tua,
dimana anak wajib taat dan patuh terhadap orang tua. Bahkan sekalipun berbeda keyakinanpun, anak tetap wajib menghormatinya.

3. Akhlak kepada orang lain, yaitu akhlak terhadap komunitas di luar keluarga seperti tetangga baik yang seagama atau beda agama, termasuk komunitas sosial lainnya seperti terhadap pemerintah.

c. Akhlak kepada lingkungan

Lingkungan atau alam merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, karena lingkungan atau alam merupakan tempat berpijak dan ladang manusia untuk melangsungkan kehidupannya. Untuk itu manusia harus menjaga lingkungan atau alam agar ia mampu menjalani kehidupannya dengan baik.

Manusia wajib menjaga dan melestarikan lingkungan, karena melestarikan lingkungan berarti menjaga kelangsungan hidup manusia. Jadi kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab manusia. Oleh karenanya Islam melarang berbuat kerusakan di muka bumi. Segala bentuk kerusakan di muka bumi adalah ulah manusia (QS. Ar Rum 30:41). Agama mengatur secara lugas bagaiman cara manusia menjaga lingkungannya.

3. Agama Mengatur Konsekuensi Hidup Manusia

Ketika manusia bersyahadat atau bersaksi akan adanya Allah dan Rasulnya, berarti ia sudah berjanji untuk konsisten untuk mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya. Syahadat itu akan ditindak lanjuti dalam bentuk iman yang direfleksikan dalam keyakinan, ucapan dan amal perbuatan sehari-hari. Konsistensi kepatuhan terhadap Allah harus diperjuangkan sekuat tenaga, karena tidak berartibahwa setelah manusia berjanji kepada kepada Allah akan terbebas dari godaan.

Godaan inilah yang akan mempertaruhkan kepatuhan manusia terhadap Tuhannya. Untuk menguatkan keyakinan manusia dari berbagai godaan ini, Allah mengatur konsekuensi hidup manusia. Ada dua ibarat konsekuensi yang ditunjukkan oleh Allah melalui rasulNya yaitu berita menggembirakan (basyiran) dan peringatan (nadziran). Menurut Prof. Dr. Muhamad Zaki Khidlr akar kata basyīran dengan segala derivasinya dalam al-Qur’ān terulang sebanyak 123 kali. Sedangkan jumlah kosa kata yang diderivasikan dari akar nadzīr terulang sebanyak 130 kali. Mayoritas atau bahkan hampir keseluruhan kosa kata tersebut terkait dengan makna pemberian kabar gembira dan pemberian peringatan.

Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Al-An’am 48)

Segala bentuk intensitas kehidupan manusia senantiasa dihadapkan dengan konsekuensi baik di dunia, terlebih lagi di akhirat. Berita gembira akan menjadi motivasi bagi manusia agar lebih semangat dalam beraktifitas, sedangkan peringatan menjadi sarana agar manusia lebih berhati-hati dalam bertindak.

Kesimpulan

Islam sebagai agama universal mengatur semua aspek kehidupan manusia mulai hubungan sesama manusia (hablun minan nas) hingga hubungan manusia dengan Allah (hablun minallah). Konsesus agama memberikan arah bagi manusia agar dapat merefleksikan kedua hubungan di atas dengan benar sehingga menjadi insan kamil.

Dengan mengikuti koridor agama secara kaffah, akan menjadi manusia berakhlak (berkarakter) sebagaimana Nabi Muhammad SAW. diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Agama Islam memiliki kontens akhlak yang begitu sempurna karena Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia baik hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia sesama manusia, dan akhlak manusia dengan lingkungan. Maka, dengan menjadi seorang muslim yang kaffa tentunya menjadi pribadi yang berakhlak
(berkarakter) sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *