Bacaan Doa Setelah Adzan

Bacaan Doa Setelah Adzan – Adzan merupakan tanda penyeru bahwa sudah waktunya masuk untuk mengerjakan shalat fardhu. Adapun iqamah merupakan tanda bahwa shalat fardhu akan dimulai.

Orang yang mengumandangkan adzan disebut muadzin. Sebelum melaksanakan shalat kita dianjurkan untuk mengerjakan adzan dan iqamah. Namun, tidak untuk shalat sunnah.

Hukum mengerjakan adzan dan iqamah ini adalah sunnah muakkad bagi shalat fardhu, baik dilakukan secara berjamaah ataupun sendirian (munfarid). 

Menurut pendapat ulama dari kalangan madzhab Syafi’iyah, Hanafiyah, dan Hanabilah, adzan harus dilafalkan dengan bahasa Arab.

Adapun berikut lafadz lengkap bacaan adzan:

(٢x) اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ  

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar (2x)  

(Allah Maha Besar, Allah Maha Besar)

 (٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ  

Pernahkah kita berhenti sejenak dari aktivitas untuk sekadar melantunkan doa ketika adzan berkumandang? Berhenti sejenak dari aktivitas dan melantunkan doa saat berkumandang dapat memulihkan kesadaran dan melatih kita untuk merasakan keindahan panggilan untuk beribadah kepada Tuhan.

Oleh karena itu, banyak sekali ragam doa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw untuk kita sebagai umatnya ketika sedang mendengar adzan, sebagaimana yang terangkum dalam kitab al-Du’a karya Imam Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad al-Thabraniy.

Berikut ini adalah beberapa bacaan doa ketika mendengar adzan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw yang terangkum dalam kitab kitab al-Du’a:

Pertama, doa yang dibaca khusus ketika adzan Maghrib

عن أم سلمة قالت: علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أقول عند أذان المغرب: اَللَّهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وَإِدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ لِ

“Dari Ummu Salamah, ia berkata: Rasulullah mengajariku agar aku menucapkan (doa ini) ketika adzan maghrib: “Allahumma hadzâ iqbâlu lailika wa idbâru nahârika wa ashwâtu du’âtika faghfir lî” (Ya Allah, ini adalah [saat di mana] malam-Mu datang, siang-Mu berlalu, dan lantunan doa kepada-Mu [dipanjatkan], maka ampunilah aku).” (Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy, Kitâb al-Du’â, 2007, h. 162).

Doa tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, Imam Abu Dawud, dan Imam Baihaqi yang berisikan lantunan doa untuk menyambut datangnya malam dengan memohon ampunan kepada Allah Swt.

Kedua, doa yang berisi penegasan tauhid

مَنْ قَال حين يَسْمَع الأذان: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وحده لَا شَرِيْكَ لَه، رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، غفر له

“Barangsiapa yang berucap ketika mendengar adzan: ‘Asyhadu allâ ilaha illallâh wahdahu lâ syarîka lah, radlîtu billâhi rabba wa bil-islâmi dîna wa bi-muhammadin nabiyya’ (Aku bersaksi tidak ada tuhan kecuali Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku ridha dengan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi), maka diampuni (dosanya).” (Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy, Kitâb al-Du’â, Kairo: Dar al-Hadits, 2007, h. 160).

Doa tersebut berisikan penegasan tauhid bahwa Allah Swt merupakan satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, serta mengakui bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusannya dan Islam adalah sebagai agamanya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al Hakim, Imam Ibnu Majah, dan Imam Ibnu Abi Syaibah, dikatakan bahwasanya barang siapa yang membaca doa tersebut akan diampuni dosanya.

Ketiga, doa memohon agar Allah Swt memberikan kemuliaan kepada Nabi Muhammad Saw

من قال حين يسمع النداء: اللَّهُمَّ رَبِّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُوْدَ الَّذِي وَعَدْتَهُ، حلت له الشّفاعة يوم القيامة

   
“Barangsiapa yang yang berucap ketika mendengar panggilan (adzan): “Allahumma rabbi hadzihid da’watit tammah washshalâtil qâ’imah âti muhammadan al-wasîlata wal fadlîlata wab’atshul maqâmal mahmûdal ladzî wa’adtah” (Ya Allah, Tuhan [pemilik] panggilan sempurna dan [pemilik] shalat yang didirikan ini, anugerahilah Muhammad wasilah (tempat yang luhur) dan fadhilah (keutamaan), bangkitkanlah dia pada kedudukan yang terpuji [sebagaimana] yang telah Engkau janjikan), maka ia (orang yang membacanya) akan mendapatkan syafaat di hari kiamat.” (Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy, Kitâb al-Du’â, 2007, h. 161).

Doa tersebut berisi permohonan kepada Allah agar mengaruniai Nabi Muhammad keutamaan dan tempat yang terpuji sebagaimana yang dijanjikan Allah Swt. Orang yang membacanya akan mendapatkan syafaat Rasulullah di hari kiamat kelak.

Sumber: NU Online

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *